PENGANTAR
Mobil Nasional sering dipandang memiliki dua muka.
Sering Mobil Nasional dipandang seperti tahayul yang ditakuti, dijauhi, tidak ada gunanya dipikirkan bila kita tidak punya uang. Dibilang dosa bila kita menggunakan uang yang hanya sedikit untuk sesuatu yang resikonya terlalu besar.
Di pihak lain, Mobil Nasional digambarkan terlalu sederhana. Seakan-akan asal bisa gabungkan komponen-komponen mobil, setiap orang yang memiliki bengkel bisa bikin Mobil Nasional. Mobil Nasional dipersepsikan secara naif sehingga ditertawakan dan ditinggalkan orang karena dianggap sebagai mainan penghayal yang tidak serius dan tidak memiliki prospek bisnis yang nyata.
Ada beberapa orang yang pernah mulai membuat perhitungan dan mewujudkan usaha ini. Sebut saja, Aburizal Bakrie dengan Bakrie Motor-nya, Tommy dengan Timor-nya atau Shinivasan dengan Perkasa-nya.
Kebetulan karena berbagai sebab yang berbeda semuanya tidak ada yang berhasil tetap berbisnis untuk waktu yang lama. Masing-masing punya kelemahan, punya titik lemah yang berbeda, yang menjadi titik awal kegagalan Mobil Nasional mereka. Walaupun kasus kegagalannya berbeda, tetapi akhirnya selalu digeneralisasikan orang bahwa Mobil Nasional itu tidak mungkin dilaksanakan sehingga tidak patut kita pikirkan.
Ada yang berfikir bahwa kita tidak punya uang yang cukup untuk mewujudkannya. Ada yang bilang kita tidak punya teknologi proses untuk membuatnya, ada juga yang bilang kita tidak punya orang untuk melaksanakannya.
Masing-masing kita punya gambaran sendiri-sendiri tentang produknya, bagaimana proses membuatnya dan siapa yang harus memiliki kemampuan yang seperti apa yang dibutuhkan untuk membuatnya. Kita seperti, maaf, cerita 5 orang buta yang memegang gajah di tempat-tempat yang berbeda dan masing-masing ngotot dengan persepsinya masing-masing.
Padahal, untuk menyatakan pendapat soal ini, seharusnya kita lebih spesifik berbicara dengan data mengenai apa, bagaimana Mobil Nasional yang dinilai secara kasus per kasus. Begitu banyak jenis mobil, begitu banyak teknologi proses untuk mewujudkannya, sehinga begitu bervariasi kebutuhan investasi dan modal kerja untuk mewujudkannya.
Pandangan bisa keliru bila kita tidak memiliki data dan pengetahuan yang cukup mengenai sesuatu yang ingin kita komentari. Sebaiknya kita bicara lebih spesifik karena kita hanya mampu menilai secara kasus per kasus.
Pernah kita catat Teddy Rahmat sebagai Presiden Direktur ASTRA saat itu, pada suatu kesempatan menyatakan pendapatnya bahwa jangan kita bermimpi bikin mobil untuk menjadi saingan TOYOTA, kalau di bisnis payung mungkin kita bisa menjadi Toyotanya payung. Itu adalah opini ia pribadi mengenai kemungkinan pengembangan industri Mobil Indonesia. Mungkin kebetulan pada saat itu obsesinya adalah industri kecil menengah yang ia bangun melalui kelompok MITRA pada waktu itu. Padahal tidak selalu mengembangkan Mobil Indonesia itu harus berarti menyaingi Toyota. Katakanlah kalau di industri roti, ada BreadTalk ada Sari Roti. Yang tepat adalah Mobil Nasional harus direncanakan dan diwujudkan secara teknis dan diposisikan secara marketing untuk mampu bersaing, agar jadi kebutuhan pasar dan dibeli orang, begitu.
Pro kontra terhadap gagasan pengembangan Mobil Indonesia sering kita dengar. Opini terhadap cita-cita memiliki industri Mobil Indonesia sering dihadapkan kepada kompleksitas sistem mobil sendiri yang pada akhirnya memerlukan multi kompetensi dan menuntut kordinasi keterlibatan dari banyak pihak dalam pengembangannya mulai dari perencanaan, produksi sampai ke pelayanan pasca jualnya. Suatu rangkaian industri yang panjang mulai dari industri penyediaan bahan baku sampai ke pendauran ulang.
Sehingga investasi yang besar untuk merangkai semua kegiatan dalam derap yang serasi menjadi sangat rentan terhadap kegagalan. Melibatkan sistem produksi yang rumit dengan perencanaan dan pengendalian yang berjalan ketat. Karena resiko yang tinggi ini, maka masalah prioritas penggunaan modal menjadi krusial.
Berita gembiranya adalah baru-baru ini kita dengar pendapat pihak yang berkompeten dalam hal ini Bapak Budi Darmadi, Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika, Departemen Perindustrian dalam suatu kesempatan di ahir bulan April 2009 menyatakan bahwa Indonesia saat ini belum siap untuk membuat Mobil Indonesia, tetapi diharapkan kita akan siap 3 – 4 tahun mendatang. Kelihatannya ada suatu skenario mengenai industri mobil yang belum kita ketahui.
Pertanyaannya: -Apakah memang ada usaha ke arah sana, baik kesiapan teknis pelaku industri, maupun dari pihak pemerintah sebagai regulator pembuat kebijakan? -Apakah indikator dan apa ukuran untuk menyatakan kemampuan atau kesiapan industri untuk membuat Mobil Indonesia?
Blog ini dibuat sebagai upaya memberi ruang opini publik dan komentar, baik secara sosio ekonomis, teknis maupun kajian peluang dan ancaman produk dan pasar saat ini, yang bisa saja menyentuh mengenai:
1. Pertama, apakah yang dimaksud Mobil Indonesia itu?
2. Kedua, Apakah kita perlu punya Mobil Indonesia?
3. Ketiga, Apakah persiapan yang diperlukan untuk Mobil Indonesia?
4. Keempat, Apakah timingnya tepat kita perlu Mobil Indonesia saat ini? 5. Kelima, Mampukah kita memulai pengembangan Mobil Indonesia saat ini?
Kami ingin mengundang semua pihak yang terkait, parisipasi para pakar, para pelaku stake holder industri, para penentu kebijakan serta siapa saja yang merasa ada urgensnya untuk mempersiapkan pengembangan Mobil Indonesia sejak saat ini.
Diskusi ini diharapkan tidak hanya sampai di tatanan opini, tetapi idealnya ingin masuk lebih dalam mengungkapkan fakta yang ada mengenai status yang dicapai oleh indusri otomotif Indonesia sampai saat ini.
MARKET DAN PRODUK
Sebagai dasar dari upaya pengembangan produk Mobil Indonesia, yang diperlukan adalah semuanya harus bermula dari konsep yang bermuara kepada peluang bisnis. Sebagai produk industri, bagaimanapun kriteria layak Mobil Indonesia harus bermisi tunggal didasarkan akan tujan bisnis yang nyata, yaitu harus profitable dan sukses secara finansial. Harus lepas dari titipan misi idealistik yang tidak relevan terhadap daya jual akan mengakibatkan beban yang berat untuk dipikul secara bisnis. Bila tidak atas profit, tidak akan ada darah cukup untuk berkembang dan bersaing untuk jangka panjang. Sehingga Mobil Indonesia hanya akan muncul di awal, akan tetapi akan kalah dijurus-jurus selanjutnya.
Seperti layaknya produk industri umumnya, tentunya Mobil Indonesia harus memenuhi dua syarat utama, yaitu mampu jual secara nyata dan mampu bersaing dengan produk lain:
-Mampu jual berarti : memenuhi kebutuhan dan kepuasan pembeli, memenuhi fungsi dan kehandalan yang dituntut pemakai, ada kesesuaian antara harga dan kualitas, serta seimbang antara harapan pembeli terhadap nilainya.
- Mampu bersaing berarti tentunya pertama-tama harus jelas dimana positioning Mobil Indonesia ditempatkan terhadap produk lain di pasar. Konsepnya harus tegas dan secara konsisten konsep tersebut digunakan dalam pemasarannya. Target pasar yang tegas, untuk siapa? digunakan sebagai apa? Pada bracket harga berapa? Dengan spesifikasi seperti apa? dan seterusnya.
Bersaing dalam hal teknis berarti Mobil Indonesia harus memiliki spesifikasi sesuai dengan tuntutan pemakai. Sehingga Mobil Indonesia dapat diterima apa adanya, walaupun produk pesaing punya kelebihan dalam feature spesifikasinya. Secara spesifik perlu diperhatikan feature spesifikasi apa yang dominan dituntut oleh pasar karena itu akan sangat menentukan suksesnya Mobil Indonesia di pasar.
Tingkat kualitas pada tingkat harga tertentu untuk profit tertentu harus ditetapkan sebagai sasaran dari sejak awal perencanaan. Sasaran itu kemudian dijabarkan dalam sasaran-sasaran antara dalam tahap design dan pengembangannya yang diverifikasi dan divalidasi dengan berbagai analysis dan pengujian. Sehingga dikatakan kualitas bukan didapat secara tidak segaja, tetapi secara aktif ditetapkan sebagai sasaran dalam perencanaan dan diupayakan pencapaiannya dalam design dan pengujian.
Trend saat ini menunjukkan bahwa tuntutan pasar menjadi lebih spesifik, lebih khusus sesuai serapan target pasar tertentu. Artinya secara umum ada tendensi era mass production sudah melewati titik kulminasi atas dan pemasaran cenderung ke arah volume produksi yang lebih kecil. Sehingga peluang untuk koeksistensi dengan pemain besar lebih terbuka. Pasar akan terbagi menjadi irisan kue yang lebih kecil. Akan banyak pemain baru di pasar global, seperti masuknya pemain-pemain baru dari China ke pasar internasional.
Untuk melawan pemain asing, Mobil Indonesia seyogyanya dapat memanfaatkan kedekatan ke pasar negeri sendiri, lebih peka mendengar tuntutan kebutuhan pemakai dan harus dapat lebih lincah melayani pasar sendiri.
Bench marking spesifikasi dan untung ruginya ini secara kuantitatif harus detail sehingga tuntutan kebutuhan pemakai tergambarkan jelas. Kualitas dan posisi persaingan harus dapat direncanakan dari awal agar kemampuan daya saingnya terhadap produk pesaing dapat dikalkulasikan.
Definisi produk yang tepat sangat menentukan apakah Mobil Indonesia mampu bersaing terhadap produk lain yang ada dan akan ada di pasar sebagai lawannya pada saat Mobil Indonesia diluncurkan. Perencanaan produk dan pemasarannya harus sangat teliti dievaluasi sebelum perencanaan teknis design dimulai. Karena bila salah arah, maka investasi teknis yang harus dikeluarkan kemudian akan sia-sia. Perubahan spesifikasi pada saat perencanaan di tengah tahap pengembangan sangat mahal dan akan menunda masuknya produk ke pasar. Konsekwensi keterlambatan bisa fatal, karena bisa saja pasar sudah berbeda dengan perkiraan awal. Timing yang tepat masuk ke pasar sangat penting. Sehingga kemampuan forecasting sangat berperan pada tahap ini. Riset pasar dan produk harus dijalankan dengan benar.
Dari itu, dimana Mobil Indonesia harus diposisikan? Di mainstream pasar terbesar multi purpose van 1500 – 1800 cc dengan volume produksi massa yang tinggi sekitar 60.000 – 100.000 unit perahun. Strategi omzet besar berakibat margin profit kecil karena persaingan sangat ketat. Mungkinkah masuk di celah pasar yang belum besar, dengan persaingan yang lebih ringan? Atau di pasar produk lain, truk sedang misalnya, dengan volumenya lebih kecil 20.000 – 30.000 unit per tahun dengan profit yang lebih besar? Atau di kelas truk besar luar jalan raya, seperti truk pertambangan, yang produksinya lebih ke fabrikasi, lebih customize, sehingga lebih mudah bersaing secara cerdik melawan lawan yang lebih tidak fleksibel bermanouver karena jauh lebih besar?
Dengan melihat kekuatan pesaing yang tidak akan tinggal diam melihat penetrasi Mobil Indonesia di pasar, maka penentuan jenis dan klas Mobil Indonesia akan sangat menentukan kemampuannya untuk bersaing.
Karena pada akhirnya pemasaran yang benar menentukan sukses tidaknya Mobil Nasional: Produk yang dibutuhkan, dengan harga yang pas untuk kualitas yang sesuai, diposisikan secara benar, dibawakan ke pasar dengan konsep yang tepat, dan dikelola dengan benar.
TEKNOLOGI DAN INVESTASI.
Teknologi menyediakan banyak pilihan jawaban untuk mendukung tercapainya target bisnis. Teknologi saat ini lebih mudah didapat dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, lebih banyak pilihan tersedia bagi mereka yang mampu membeli. Investasi untuk teknologi terkini dapat menjadi keuntungan bagi pendatang baru yang memanfaatkannya karena belum keluar investasi sebelumnya. Teknologi Hybrida yang dapat dimanfaatkan bukan saja hybrida antara mesin pembakaran dalam dengan elektrik, tetapi juga hybrida antara mesin pembakaran dalam dengan hidrolik yang diharapkan dapat menghemat pemakaian bahan bakar dan dapat dioperasikan lebih ekonomis daripada hybrida elektrik. Karena ternyata sampai saat ini teknologi fuel cell dan hybrida elektrik masih terlalu mahal bagi pemakai pada umumnya. Gadget-gadget elektronik dalam sistem kontrol dapat saja dengan mudah diadopsi bila kebutuhan terhadap itu cukup berarti. Kiat-kiat ramah lingkungan dan konservasi sumber daya alam banyak ditawarkan. Peluang-peluang ini harus dimanfaatkan betul karena produk pendatang baru memerlukan appeal yang lebih besar untuk dijual.
Setelah penentuan spesifikasi produk jelas, maka selanjutnya adalah pemilihan teknologi apa yang sesuai untuk format pemasaran Mobil Indonesia pada tingkat harga, kualitas dan volume produksi yang direncanakan. Pemilihan teknologi dapat saja berupa pemilihan bahan, proses dan mesin pemrosesnya. Normalnya, volume produksi tinggi dalam mass production memerlukan presisi yang tinggi untuk keseragaman kualitas. Sehingga umumnya menutut teknologi dan investasi yang tinggi juga. Akan tetapi umumnya cost akan lebih rendah. Sehingga pemilihan teknologi yang besar akibatnya terhadap investasi dan cost ini ditentukan sekali oleh pada penentuan pada kuantitas berapa Mobil Indonesia akan dipasarkan. Di titik kuantitas optimum itu harus dikompromikan antara kualitas dan investasi yang harus dikeluarkan.



Bonny E. Kusumawijaya
Mei 7, 2009
Assalamu’alaikum,
Pertama-tama saya ucapkan selamat atas “launching” blog-nya. Semoga Blog-nya rame dan yang pasti tujuan/cita-cita pa Achadiat bisa tercapai SECEPATNYA, yaitu mengembangkan mobil NASIONAL
Sedikit opini saya akan mobil nasional…
Alhamdulillah saya memiliki ketertarikan terhadap dunia otomotif sejak sekolah, apalagi sekarang saya bekerja dibidang otomotif juga. Akan tetapi ada satu pertanyaan saya yang sampai sekarang masih belum terjawab sepenuhnya… APAKAH INDONESIA TIDAK BISA MEMBUAT MOBIL SENDIRI???
Sebetulnya pertanyaan tersebut sempat terjawab ketika mobil Timor, yang menyandang gelar Mobil Nasional, mulai diproduksi. Apalagi saya sempat membaca suatu berita di Tabloid Otomotif, bahawa salah satu Pengembang Otomotif Indonesia (kalau tidak salah pa Tinton Suprapto / atau Kaka-nya yah??) sedang melakukan test/pengujian untuk Engine yang akan dipasang di Timor. Tapi tragisnya, progress mobil nasional tersebut makin hari makin bias dan mungkin hilang…
Sempat juga tersiar berita mengenai “kancil” yang ternyata diprakarsai oleh Pa Achadiat, dimana harapan akan terjawabnya pertanyaan saya muncul kembali. Tapi seperti Pa Achadiat sampaikan, ada beberapa kendala mengiringi keberadaan “kancil” ini..
Terus terang saya semakin “Panas” pada saat mendengar berita India akan memproduksi mobil rakyat dengan brand “tata nano”. Pertanyaan saya semakin “menggema”, TIDAK BISAKAH INDONESIA MEMBUAT MOBIL SENDIRI??.
Padahal apakah masih disangsikan kemampuan Orang INDONESIA dalam mendesain produk otomotif?? Saya rasa Tidak…saya kenal siapa yang mendesain Wheel, Disc (Velg) Kijang…bahkan sampai dengan Innova..mereka adalah Orang INDONESIA. Saya juga kenal siapa yang mendevelop unutk Kijang Pick-up…mereka adalah Orang INDONESIA…Bahkan saya yakin masih banyak desiner-desiner yang “brilian” yang mampu mendukung terciptanya Mobil INDONESIA. Terus KENAPA?? itulah jawaban yang sedang saya cari…
Terakhir, saya cukup bangga dengan akan launching-nya ARINA dan GEA yang katanya “diciptakan” oleh orang INDONESIA…
Mudah-mudahan melalu blog Pa Achadiat ini, perkembangan otomotif Nasional semakin baik dan tentunya Mobil Nasional bisa terwujud secepatnya…
Mohon maaf, komentarnya kepanjangan..
Wassalam,
Bonny E. Kusumawijaya
Bonny E. Kusumawijaya
Mei 9, 2009
Assalamu’alaikum,
Selamat atas “launching”nya blog Pa Achadiat mengenai Mobil Nasioanl ini. Mudah-mudahan melalui blog ini perkembangan mobil nasional menjadi lebih cepat terealisasi.
Sedikit opini saya akan mobil nasional..
Alhamdulillah sejak duduk dibangku sekolah, saya sudah mempunyai ketertarikan akan dunia otomotif, terlebih pada saat diterima menjadi karyawan diperusahaan otomotif.
Akan tetapi ada pertanyaan yang sampai sekarang belum menemukan jawaban yang bisa memuaskan saya, yaitu :
“MAMPUKAH ORANG INDONESIA MEMBUAT MOBIL SENDIRI??”
Sebetulnya pertanyaan ini sempat akan terjawab pada saat launching Mobil Nasional “Timor”. Bahkan dalam artikel salah satu tabloid otomotif dalam negeri menuliskan bahwa salah seorang pakar otomotif nasional sedang mendevelop mesin dan akan diimplementasikan pada modil “Timor”.
Tapi apa boleh buat, makin hari perkembangan “Timor” semakin surut..
Terus apakah Orang Indonesia belum memiliki kemampuan untuk membuat/mendesain mobil sendiri?? jawaban dari pertanyaan ini sedikit memiliki titik terang sekaligus menjadi kebanggaan, khususnya buat saya, pada saat saya bergabung di sebuah perusahaan otomotif.
Tahukah siapa yang mendesain Disc Wheel (velg) mobil kijang, Innova dan beberapa mobil toyota lainnya??
Mereka adalah ORANG INDONESIA…
Tahukah siapa yang mendevelop kijang pick-up??
Mereka adalah ORANG INDONESIA…
Yah, ORANG INDONESIA.. bahkan beberapa orang sudah terlibat dalam mendevelop/mendesain part-part mobil lainnya (bumper, axle, dll.)
Kalo begitu berarti kita MAMPU untuk membuat Mobil Sendiri?? PASTI… bahkan masih banyak orang Indonesia yang memiliki kemampuan untuk menunjang perwujudan Mobil Nasional ini. Tinggal bagaimana kita berkolaborasi dan bekerjasama.
Beberapa waktu yang lalu muncul titik terang lagi atas pertanyaan saya, yaitu pada saat GEA dan ARINA di publikasikan. Mudah-mudahan berangkat dari situ, lambat laun Mobil Nasional bisa terealisasikan…
Sekali lagi, selamat buat Pa Achadiat, atas launching blog-nya..mudah-mudahan cita-cita dan harapan Pa Achadiat serta pemerhati mobil nasional yang lain akan Mobil Nasional ini SECEPATNYA dapat TERWUJUD…Amin.
Sekian opininya, maaf kalaau kepanjangan…
Wassalam,
Bonny E. Kusumawijaya
achadiat asiandi suhadi
Mei 9, 2009
Terima kasih atas komentar pak Bonny,
Faktanya Orang Indonesia sudah tahu knowhow dan nyatanya ikut terlibat mendesign konponen atau sistem kendaran bermotor.
Yang penting adalah agar masing-masing pelaku bisa menjalankan amanah: “ILMU AMALIAH, AMAL ILMIAH”
Artinya: 1. Ilmu harus diamalkan, ini sudah biasa dan sering kita dengar bahwa kita harus membuat ilmu yang dimiliki menghasilkan sesuatu yang bermanfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.
2. Tetapi, jangan lupa sebaliknya, amal kita harus diilmukan. Artinya dari apa yang kita kerjakan, kita harus buat dibuat standardnya, disusun sistematikanya sehigga dapat diulangi dengan hasil yang sama, dapat dijelaskan sebab akibatnya,
Kita harus menuliskan hasil dari pembelajarankita sehari-hari.
Kompilasi dari semua pengalaman ini harus dapat disinergikan untuk sesuatu yang lebih besar, lebih rumit, lebih bermanfaat.
Mengenai MOBNAS, tentunya tanggung jawab dari yang berkompeten, yang merasa mampu, yang memang adalah pakarnya untuk berkontribusi mencari cara yang terbaik.
Serahkanlah segala sesuatu pada akhlinya. Kalau tidak, mungkin akan lebih banyak kemudharatannya.
Salam,
Dodo.
Adjat
November 29, 2009
Kalau ada kesempatan untuk presentasi Mobnas didepan Kepala Bappenas, apakah kira2nya menurut Dodo besar manfaatnya ?
Access nya bisa diupayakan kalau memang diperlukan, insya Allah. Masih sering ke Bandung, Do ?
Salam,
Adjat
MS-74
Dodo
November 29, 2009
Terima kasih pa Adjat,
Saya selalu bersedia untuk sharing mengenai Mobil Nasional dan tentunya berterimakasih sekali bila bisa presentasikan hal ini ke BAPENAS.
Tentunya dengan persiapan yang cukup, apa sasarannya dan apa kontribusi saya yang diharapkan untuk mencapai sasaran tersebut.
Kita ketemuan aja dulu, di Bandung OK.
Salam,
Dodo – MS74
Budi
Desember 10, 2009
Menarik sekali apa yg dicita2kan pak Achadiat ttg visi mobil nasional. saya pribadi kurang memiliki pengetahuan yg cukup utk menjawab mengapa program mobnas kita dari dulu hingga skrg belum berjalan spt yg diharapkan. Dari sisi aspek teknis sptnya tidak ada masalah, penyebabnya barangkali adalah aspek ekonomis dan politis…
Mengingat persediaan energi fosil yg semakin menipis,saya memprediksi trend perkembangan kedepan adalah Mobil Listrik Molis). Jadi apakah tidak sebaiknya program Mobnas lebih difokuskan saja pada pengembangan Mobil Listrik saja.
Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa mahasiswa saya membuat mobil listrik dg daya motor 2x500W dan mampu berlari 50km/jam. Saya memiliki keyakinan, apabila kita dapat membuat Molis berpenumpang dua orang, dengan kecepatan maksimum 50km/jam saja, dan harga sktr 25-30jt, maka saya yakin akan mendapat respon positif dari masyarakat.
Idenya adalah membuat Real City Car yang ramah lingkungan dan hemat energi. Molis dirancang utk beroperasi didalam kota. Saya rasa utk transportasi didalam kota, kecepatan 50 km/jam sudah cukup dg pertimbangan safety dan kemudahan perizinan bahkan barangkali tidak membutuhkan STNK!?
Demikian ide dari saya, mohon feedbacknya…
Terima Kasih,
Budi Triyono
Dodo
Desember 10, 2009
Salam kenal pak Budi,
Saya salut anda suadh berhasil buat mobil listrik, ii awal yang baik untuk terus dikembangkan agar bisa lebih cocok untuk dibuat komersial.
Masalah mobil lisrik saat ini, pertama infrastruktur pengisian listriknya belum ada (hanya pakai outlet rumah), kedua biaya operasinya teryata masih lebih mahal dari mobil biasa sehingga pebel mobil listrik di Amerika lebih kepada orang-orang yang memen idealis dan environmentalis. Masaah ketiga adalah belum ada baterei yang murah, eliable dan pengisiannya cepat (ini berhubungan juga dengan biaya operasi yang menjadi mahal karena bateri harus ering diganti).
Tetapi kita mengharapkan beberapa tahun mendatang akan ada solusi mengena hal ini dan saya harapkan pada saat itu anda sudah siap dengan penawaran mobil listrk yang efisian dan berdaya saing untuk dijual seara komersial.
Ada usul lain sebenarnya, untuk bus dan truk besar bisa dicoba hybrid fiesel untuk menggerakkan generator pembangit listrik dan listriknya digunakan untuk menggerakkan motor listrik traksi di roda (seperti juga serig dipakai di lokomotif diesel listrik). Sehingga diesel bisa berputar relatif konstan didaerah putaran ekonomis bahan bakarnya, sedangkan kebutuhan torsi dikendalikan dengan mengatur kecepatan putar motor listriknya.
Truk raksasa heavy duty untuk tambang umumnya mengunakan sistem seperti ini.
Salam dan selamat berkarya, satu saat saya ingin lihat dong mobi listriknya, ada dimana ?
Dodo.
Budi
Desember 10, 2009
Ada di bandung pak, kebetulan tgl 5-6 des kemarin kami mengikuti Kompetisi Mobil listrik Indonesia di Politeknik Negeri Bandung. jika ada waktu silakan main ke kampus kami. untuk gambar prototype mobil bisa di lihat via facebook.
Ide hybrid cukup menarik, ada rencana akan dibuat hybrid dg mesin sepeda motor utk meningkatkan jarak tempuh dan mengatasi kendala pengisian baterai.
Salam,
Budi T
Dodo
Maret 3, 2010
Pak Budi Triyono yth,
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.
Saya pribadi belum yakin dengan mobil listrik karena ternyata ongkos operasinya lebih mahal dari mobil biasa karena pertama harga listriknya mahal dan kita harus sering ganti batere secara reguler. Karena baterenya banyak, ongkos operasinya jadi mahal.
Katanya sih batere Zink-air punya prospek baik penggani Li-Ion atau fuel cell atau yang lain. Kita tunggu terobosan dalam hal ini.
Konstrusinya sendiri agar terus dikembangkan untuk ketemu dengan selera pasar dan regulasi yang ada.
Selamat, maju terus pak.
Salam,
Dodo